Renungan Awal Tahun

KabarIndonesia – Apa arti tahun baru? Sebagian manusia menganggapnya sebagai tahun asa, tahun cahaya, tahun cita, tahun duka, tahun cinta, tahun derita, tahun harapan, tahun nestapa, tahun rasa, dsb. Penulis cenderung memilih tahun baru sebagai tahun cahaya.

Tahun cahaya adalah tahun dimana semua unsurnya memancarkan cahaya yang terang, membentuk harmoni yang cemerlang. Tahun dimana negeri kita memiliki manusia-manusia cahaya. Manusia seperti inilah yang diharapkan dapat mengelola alam-semesta secara bijaksana.

Apa itu manusia cahaya? Manusia cahaya adalah manusia yang telah tercerahkan sepenuhnya sehingga dapat menerangi dirinya sendiri, keluarganya, masyarakatnya, negaranya, dunianya, dan semesta raya. Singkatnya, manusia cahaya adalah mereka yang dirinya telah tercerahkan sehingga dapat mencerahkan semesta.

Lalu, bagaimana cara menjadi manusia cahaya? Caranya mudah dan sederhana.

Pertama, membersihkan hati dan diri dari berbagai noda dan dosa. Jika kita memiliki banyak dosa, perbuatan kita diwarnai hal-hal yang tercela, perkataan kita menimbulkan luka, maka sebaiknya kita segera sadar diri, bertaubat, memohon ampunan kepada Allah, bertekad tidak akan mengulangi lagi, dan konsisten di dalam menebar benih kebaikan dan menanam bibit cinta kasih.

Cara kedua adalah dengan mencegah diri dari semua penyakit hati, seperti: mudah berprasangka buruk, iri, dengki, takabur, suka pamer, dendam, dsb. Agar tidak terserang penyakit hati adalah dengan selalu bersyukur kepada Allah, tidak membanding-bandingkan diri kita dengan orang lain dalam hal duniawi (seperti: materi, kekuasaan, pangkat, kedudukan, jabatan, keluarga, kepandaian, dsb), senantiasa menyibukkan diri dengan berbagai hal yang berguna, dan tidak suka mencari-cari kesalahan orang lain.

Manusia cahaya memiliki jiwa cahaya, jiwa yang suci, sehingga semua yang berada di sekitarnya ikut tercerahkan, dapat menemukan jalan Cahaya menuju ke sumber Cahaya. Manusia cahaya memiliki hati nirwana, sehingga bila berada di dekatnya, mudah merasakan kedamaian dan kebahagiaan sejati nan abadi.

Cara ketiga adalah dengan memiliki mindset (pola/paradigma berpikir) yang baik, benar, teratur, dan terarah. Mindset inilah pondasi kita untuk berpikir positif, kreatif, inovatif, selektif, dan produktif.

Sederhananya, apa yang kita pikirkan itulah yang akan menjadi kenyataan. Jika kita selalu berpikir tentang peluang, maka berbagai kemudahan dan kesempatan akan menyambut kita. Jika kita senantiasa berpikir tentang risiko, maka kesulitan dan krisis akan menghampiri kita. Oleh karena itulah sebaiknya setiap diri kita senantiasa berhati-hati di dalam berpikir.

Manusia cahaya memiliki pemikiran cahaya; pemikiran yang terang serta menerangi, pemikiran yang cerah serta mencerahkan. Dengan demikian semua persoalan hidup segera menemukan solusinya.

Cara keempat adalah berkata benar atau diam. Perkataan yang baik membawa kita kepada kebenaran. Perkataan yang benar membawa kita kepada kebijaksanaan. Perkataan yang bijaksana…inilah mata air kebaikan. Jika berbicara membuat kita binasa, maka diam itulah kebijaksanaan. Jika berbicara membuat jiwa tersiksa, hati terluka, dan raga menderita, maka diam itulah kebijaksanaan. Jika berbicara hanya sekadar berbicara, berkata tanpa makna, maka diam itulah kebijaksanaan.

Manusia cahaya, perkataannya adalah cahaya. Jika berkata maka kata-katanya adalah sumber kebenaran yang menerangi dan mencerahkan. Jika diam, maka diamnya pun merupakan jawaban.
Ya, benar…Bagi manusia cahaya, diam merupakan jawaban cahaya atas semua pertanyaan rahasia semesta.

Cara kelima adalah bertindak dan berbuat yang berguna secara hati-hati, terencana, dan bijaksana. Misalnya dengan membaca pengetahuan yang benar, menuliskan pengalaman yang inspiratif, mendengarkan nasihat yang bijaksana, mendendangkan lagu yang menggetarkan jiwa, dan sebagainya.

Segala tindakan dan perbuatan kita hendaknya dilakukan demi sang Mahacinta, atas petunjuk sang Mahakasih, sehingga cahaya Cinta Kasih dapat terasa di hati semua manusia dan menerangi semesta raya.

Jika kita bertindak atau berbuat hanya demi menggapai mimpi duniawi maka mustahil kita mencapai inti surgawi.

Bagi manusia cahaya, semua tindakan dan perbuatannya senantiasa mengingatkan manusia akan jatidirinya, menginspirasi jiwa untuk bertindak atas nama sang Maha Cinta-Kasih, mengasah nurani menjadi semakin suci, dan menyadarkan manusia selalu dalam harmoni. Bila manusia-bumi-semesta dalam harmoni, maka kita mudah merasakan kehangatan hati Ilahi.

Agar makna senantiasa abadi di dalam jiwa, maka marilah kita renungkan mutiara kata berikut ini:

Barangsiapa

Barangsiapa menebar doa
dia menuai Kehidupan

Barangsiapa menebar cinta
dia menuai Keabadian

Barangsiapa menebar kasih
dia menuai Kedamaian

Barangsiapa menebar benci
dia menuai kesengsaraan

Barangsiapa menebar derma
dia menuai kekayaan

Barangsiapa menebar ilmu
dia menuai kebijaksanaan

Barangsiapa menebar semangat
dia menuai kesuksesan

Barangsiapa menebar persahabatan
dia menuai kebahagiaan

Barangsiapa menebar permusuhan
dia menuai kehancuran

— 0 I00I 0 —

By suprayitno88 Posted in Agama

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s